Tradisi Ngusabha Bukakak Digelar di Desa Adat Giri Emas: Wujud Rasa Syukur Terhadap Kesuburan Hasil Tani

Desa Adat Giri Emas, Buleleng, Bali, kembali menggelar Tradisi Ngusabha Bukakak pada 13 April 2025, sebagai wujud syukur atas kesuburan hasil pertanian dengan simbol suci Bukakak.

Caption: Tradisi Ngusabha Bukakak di Desa Adat Giri Emas (sumber foto: brida.bulelengkab.go.id)

Balidalamberita.com, BULELENG – Ada sebuah pemandangan menarik di Desa Adat Giri Emas, Kecamatan Sawan, Buleleng.

Pasalnya desa ini kembali menyelenggarakan tradisi Ngusabha Bukakak pada Minggu, 13 April 2025.

Tradisi tersebut dilakukan setiap 2 tahun sekali yang bertepatan dengan rangkaian Purnama Kedasa yang merupakan simbol dari rasa Syukur karena kesuburan hasil pertanian yang melimpah.

Ribuan krama desa adat berkumpul di Pura Subak Dangin Yeh Pada pukul 11.00 Wita.

Bagi krama yang telah menikah, krama lanang diharuskan memakai udeng putih yang lengkap dengan bunga pucuk merah, pakaian putih dan saput merah.

Sementara kaum Perempuan yang sudah berumahtangga mengenakan pakaian berwarna putih dan merah (berupa kamen).

Sementara krama remaja atau yang belum berkeluarga maka harus memakai busana yang seragam.

Kaum pria yang belum menikah akan mengenakan udeng putih, pakaian putih dan saput kuning.

Sedangkan kaum Wanita memakai busana yang kombinasi warna putih maupun kuning.

Sebelum melakukan pengarakan sarad agung, semua krama terlebih dulu melakukan persembahyangan secara bersama-sama yang berlangsung di Pura Subak.

Setelah persembahyangan dilakukan bersama, semua krama lanang yang telah siap mengenakan sepatu tersebut, mengangkat sarad agung yang kemudian disebut bukakak yang merupakan sarana utama pada ngusaba.

Manggala Karya Ngusabha Bukakak, Wayan Sunarsa mengungkapkan jika nama Bukakak asalnya dari kata Lembu atau sebagai lambang Siwa dan Gagak atau lambang Wisnu.

Bukakak merupakan perwujudan dari seekor burung garuda ataupun paksi yang dibuat dari ambu ataupun daun enau muda dan dihiasi oleh bunga kembang sepatu serta bunga pucuk bang.

Konsep Lembu dan Gagak tersebut merupakan satu kesatuan simbol dwitunggal dari dewa Siwa dan Wisnu, konsep dwitunggal ini sudah ada sejak 1181 M -1193 M pada zaman Kerajaan Daha Panjalu yang saat itu dipimpin oleh Raja Sri Aji Jaya Pangus.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *