
Pura Samuan Tiga Tempat Lahirnya Persatuan Umat Hindu di Bali

Jika Pura Bale Agung adalah hasil dari sebuah keputusan besar dalam sejarah Hindu Bali, maka Pura Samuan Tiga adalah tempat di mana keputusan besar itu lahir. Terletak di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, hanya sekitar lima kilometer dari pusat Ubud, pura ini menyimpan salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah keagamaan Bali: sebuah pertemuan akbar yang berhasil menyatukan sembilan sekte Hindu yang sebelumnya saling berseberangan menjadi satu sistem kepercayaan yang utuh.
Nama “Samuan Tiga” sendiri secara etimologis berasal dari dua kata: “samuan” yang berarti rapat, pesamuan, atau pertemuan, dan “tiga” yang merujuk pada tiga unsur atau tiga kelompok besar yang dipertemukan. Nama ini secara langsung merujuk pada fungsi historis pura ini sebagai lokasi pesamuan agung (pertemuan besar) para pemuka agama Hindu di Bali kuno.
Bila kamu sudah membaca artikel kami sebelumnya tentang Pura Bale Agung dan sistem Kahyangan Tiga, maka Pura Samuan Tiga adalah “bab pembuka” dari cerita itu, tempat konsep yang melahirkan ribuan pura desa di seluruh Bali pertama kali dirumuskan.

Asal-Usul Nama: Dari Pura Gunung Goak Menjadi Pura Samuan Tiga
Sebelum dikenal dengan nama Samuan Tiga, situs ini awalnya bernama Pura Gunung Goak. Nama ini konon diambil dari banyaknya burung gagak (goak) yang bersarang di sekitar area bukit tempat pura ini berdiri pada masa lampau.
Menariknya, sejumlah sumber tertulis Bali kuno mengindikasikan bahwa keberadaan pura di lokasi ini sudah tercatat jauh sebelum kedatangan tokoh sentral dalam kisah penyatuan sekte, Mpu Kuturan. Salah satu sumber yang sering dirujuk adalah lontar Tatwa Siwa Purana, yang menyebutkan bahwa pada masa pemerintahan Prabu Candrasangka, telah dibangun sejumlah pura termasuk Penataran Sasih dan Samuan Tiga, lengkap dengan berbagai tarian dan ritual seperti siat sampian dan sanghyang jaran, tradisi yang sebagian masih dilestarikan hingga sekarang.
Nama Gunung Goak baru berubah menjadi Samuan Tiga setelah peristiwa pertemuan besar yang mengubah sejarah keagamaan Bali berlangsung di lokasi ini.

Latar Belakang Sejarah: Bali yang Terpecah oleh Sembilan Sekte
Untuk memahami pentingnya Pura Samuan Tiga, kita perlu mundur ke masa Bali kuno sekitar akhir abad ke-10 hingga awal abad ke-11 Masehi, pada era pemerintahan Raja Udayana dan permaisurinya, Ratu Gunapriya Dharmapatni (Mahendradatta), sosok yang juga kita bahas dalam artikel tentang Pura Durga Kutri.
Pada masa itu, ajaran Hindu di Bali berkembang menjadi berbagai aliran atau sekte yang masing-masing memiliki cara pemujaan berbeda. Sejumlah prasasti mencatat setidaknya sembilan sekte utama yang berkembang kala itu:
- Pasupata
- Bhairawa
- Siwa Sidhanta
- Waisnawa
- Bodha (Buddha)
- Brahma
- Resi
- Sora
- Ganapatya
Beberapa sumber lain menyebutkan variasi berbeda, misalnya konsep sadsekta (enam aliran) yang terdiri dari pemujaan terhadap Sambhu, Kala, Brahma, Wisnu, Bhayu, dan Iswara, menunjukkan bahwa peta keagamaan Bali kuno memang sangat beragam dan kompleks, dengan catatan yang bervariasi antar sumber sejarah.
Keberagaman ini semestinya menjadi kekayaan spiritual, namun pada praktiknya justru memicu perselisihan. Setiap sekte memiliki cara pemujaannya sendiri, beberapa di antaranya bahkan menganut praktik ortodoks seperti memuja pohon besar, batu, dan angin. Perpecahan tidak hanya terjadi antar sekte, tetapi juga di dalam satu sekte itu sendiri; sekte Waisnawa misalnya, terpecah lagi menjadi aliran Bhagawata dan Pancaratra. Kondisi ini lambat laun mengancam stabilitas sosial dan keagamaan kerajaan.

Kedatangan Mpu Kuturan dan Pesamuan Agung
Melihat situasi yang kian mengkhawatirkan, Raja Udayana dan Ratu Mahendradatta mengambil langkah tegas: mendatangkan seorang pendeta sekaligus cendekiawan besar dari Jawa bernama Mpu Kuturan ke Bali. Mengenai waktu kedatangannya, sumber-sumber sejarah menunjukkan catatan yang berbeda-beda — sebagian menyebut sekitar tahun 845 Masehi, sementara sumber lain mengaitkan peristiwa pesamuan besar ini dengan tahun 1001 Masehi pada masa pemerintahan berikutnya. Perbedaan ini wajar mengingat sumber-sumber sejarah Bali kuno banyak berasal dari lontar dan prasasti yang ditulis dan disalin ulang lintas generasi.
Mpu Kuturan dikenal sebagai penganut Buddha Mahayana yang juga memiliki pemahaman mendalam mengenai berbagai aliran Hindu serta tata pemerintahan. Sebagian sumber bahkan mengaitkannya sebagai penasihat pada masa Raja Airlangga di Kerajaan Kahuripan, Jawa Timur, putra dari Udayana dan Mahendradatta sendiri.
Dengan kapasitas dan wibawanya, Mpu Kuturan memimpin sebuah pesamuan agung (musyawarah besar) yang mengundang para pemuka dari seluruh sekte yang ada di Bali. Pertemuan bersejarah ini berlangsung di lokasi yang kala itu masih bernama Pura Gunung Goak, situs yang kini kita kenal sebagai Pura Samuan Tiga.
Dalam pertemuan tersebut, para pemuka sekte yang sebelumnya berseteru berhasil dipertemukan dan diajak berdialog secara langsung. Hasilnya sungguh monumental: kesembilan sekte (atau menurut sebagian sumber, tiga kelompok besar aliran keagamaan, Siwa Siddhanta, Buddha Mahayana, dan Sadsekte Bali Aga) sepakat untuk melebur menjadi satu sistem pemujaan yang seragam, yang dikenal sebagai konsep Tri Murti: pemujaan terhadap tiga manifestasi utama Tuhan, yaitu Brahma (pencipta), Wisnu (pemelihara), dan Siwa (pelebur).

Keputusan Samuan Tiga: Cikal Bakal Kahyangan Tiga
Hasil dari pesamuan agung ini kemudian dikenal sebagai “Keputusan Samuan Tiga”, sebuah landasan filosofis yang menjadi dasar berdirinya sistem desa adat (desa pakraman) di seluruh Bali, lengkap dengan struktur Kahyangan Tiga: tiga pura wajib di setiap desa, yaitu Pura Desa (Bale Agung) untuk memuja Brahma, Pura Puseh untuk memuja Wisnu, dan Pura Dalem untuk memuja Siwa.
Selain melahirkan konsep Kahyangan Tiga, keputusan ini juga memperkenalkan konsep Kemulan Rong Telu, bentuk pemujaan leluhur dalam skala keluarga (merajan/sanggah) yang juga merepresentasikan Tri Murti dalam lingkup rumah tangga. Artinya, dampak dari pertemuan di Pura Samuan Tiga tidak hanya berhenti pada level desa, tetapi meresap hingga ke unit terkecil masyarakat Bali: keluarga.
Berkat keberhasilan Mpu Kuturan menyatukan sekte-sekte yang sebelumnya terpecah, sistem keagamaan yang lahir dari Pura Samuan Tiga ini bertahan dan terus dijalankan oleh masyarakat Hindu Bali hingga lebih dari seribu tahun kemudian, sebuah pencapaian luar biasa dalam sejarah harmonisasi keagamaan yang jarang ditemukan tandingannya di tempat lain.

Menjelajahi Kompleks Pura Samuan Tiga
Berbeda dari kebanyakan pura Bali yang umumnya terdiri dari tiga mandala (Tri Mandala), Pura Samuan Tiga memiliki struktur yang lebih kompleks, terdiri dari tujuh mandala atau halaman dengan tingkat kesakralan yang berbeda-beda. Struktur berlapis ini mencerminkan betapa pentingnya kedudukan pura ini secara historis dan spiritual dibandingkan pura desa pada umumnya.
Di dalam kompleksnya, Pura Samuan Tiga menyimpan sejumlah peninggalan arkeologis yang menjadi bukti nyata usianya yang sudah berabad-abad, di antaranya:
- Arca Ganesha, dewa berkepala gajah yang dipuja sebagai penghalau rintangan.
- Arca Siwa, merepresentasikan salah satu unsur Tri Murti yang menjadi inti dari keputusan pesamuan agung.
- Sejumlah struktur bangunan kuno lainnya yang menjadi objek penelitian arkeologis dan sejarah.
Karena nilai sejarah dan arkeologisnya yang sangat tinggi, Pura Samuan Tiga telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Provinsi Bali, dengan tujuan melindungi peninggalan-peninggalan kuno di dalamnya dari kerusakan maupun alih fungsi.

Tradisi Siat Sampian: Warisan Hidup dari Masa Lampau
Salah satu daya tarik khas Pura Samuan Tiga yang masih lestari hingga kini adalah tradisi Siat Sampian. Tradisi ini merupakan ritual “perang” simbolis, di mana umat saling melempar sampian (janur/anyaman daun kelapa muda) satu sama lain sebagai lambang perlawanan terhadap kejahatan dan energi negatif.
Menariknya, sebagaimana disebutkan dalam lontar Tatwa Siwa Purana, tradisi siat sampian ini bukanlah tradisi baru, melainkan sudah tercatat sebagai bagian dari ritual pura ini sejak masa yang sangat awal, bersamaan dengan tradisi lain seperti sanghyang jaran (tarian kuda kerasukan) dan nampyog nganten. Siat Sampian umumnya diselenggarakan setiap tahun bertepatan dengan purnama kesepuluh dalam kalender Bali, dan menjadi momen yang dinantikan baik oleh warga lokal maupun wisatawan yang tertarik menyaksikan langsung warisan budaya hidup ini.

Mengapa Pura Samuan Tiga Penting bagi Sejarah Bali?
Kalau Pura Durga Kutri menyimpan kisah personal seorang ratu yang menjelma menjadi dewi, dan Pura Bale Agung merepresentasikan hasil penerapan sistem kepercayaan di tingkat desa, maka Pura Samuan Tiga adalah titik nol dari seluruh rangkaian sejarah tersebut, tempat di mana keputusan besar yang membentuk wajah Hindu Bali seperti yang kita kenal sekarang ini pertama kali dirumuskan.
Tanpa pesamuan agung yang dipimpin Mpu Kuturan di lokasi ini, sangat mungkin sistem Kahyangan Tiga yang kini berdiri di hampir setiap desa adat Bali tidak akan pernah terwujud, dan sekte-sekte Hindu yang berbeda mungkin akan terus berjalan sendiri-sendiri tanpa kesatuan konsep pemujaan Tri Murti. Dalam artian ini, Pura Samuan Tiga bukan hanya situs sejarah, tetapi juga simbol nyata bagaimana dialog dan musyawarah mampu menyatukan perbedaan menjadi kekuatan bersama, sebuah nilai yang relevan tidak hanya bagi konteks keagamaan, tetapi juga kehidupan sosial secara umum.

Tips Berkunjung ke Pura Samuan Tiga
Bagi yang ingin mengunjungi langsung situs bersejarah ini, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Lokasi mudah dijangkau. Pura ini berada di Jalan Pura Samuan Tiga, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, hanya sekitar lima kilometer dari pusat Ubud, sehingga cocok dipadukan dengan itinerary wisata budaya di kawasan Ubud dan sekitarnya.
- Suasana tenang dan tidak ramai, cocok bagi wisatawan yang mencari pengalaman budaya yang lebih personal dan jauh dari keramaian destinasi wisata utama.
- Kenakan busana sopan atau kain sembahyang, terutama bila ingin memasuki area mandala yang lebih dalam.
- Datang saat purnama kesepuluh bila ingin menyaksikan langsung tradisi Siat Sampian, namun tetap jaga sikap sebagai penonton yang menghormati prosesi ritual.
- Manfaatkan pemandu lokal untuk memahami lebih dalam cerita di balik setiap mandala dan arca yang ada, karena banyak detail sejarah yang hanya diwariskan secara lisan oleh warga setempat.
Kesimpulan
Pura Samuan Tiga adalah salah satu situs paling penting dalam sejarah keagamaan Bali, bukan karena kemegahan fisiknya semata, tetapi karena peristiwa yang pernah terjadi di dalamnya: sebuah pesamuan agung yang berhasil menyatukan sembilan sekte Hindu yang berseberangan menjadi satu sistem kepercayaan yang kokoh dan bertahan lebih dari seribu tahun.
Bersama dengan Pura Durga Kutri dan Pura Bale Agung, Pura Samuan Tiga melengkapi gambaran utuh tentang bagaimana Bali kuno, di bawah kepemimpinan Raja Udayana, Ratu Mahendradatta, dan kebijaksanaan Mpu Kuturan, berhasil membangun fondasi spiritual dan sosial yang menjadi identitas Bali hingga hari ini: pulau yang mampu merangkul keberagaman menjadi harmoni.
Ingin membaca lebih banyak tentang sejarah pura, adat, dan tradisi Bali lainnya? Kunjungi kasurat.com untuk artikel-artikel seputar Hukum Adat, budaya dan tradisi Bali.



