
Jejak Ratu Mahendradatta dan Legenda Dewi Durga di Puncak Bukit Gianyar

Di antara ribuan pura yang tersebar di seluruh penjuru Bali, ada satu tempat yang jarang disebut dalam brosur wisata namun menyimpan salah satu kisah sejarah paling penting di pulau ini: Pura Durga Kutri, atau yang secara lengkap dikenal sebagai Pura Bukit Dharma Durga Kutri. Terletak di Banjar Kutri, Desa Buruan, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, pura ini bukan sekadar tempat persembahyangan biasa. Ia adalah saksi bisu perjalanan lebih dari seribu tahun peradaban Bali kuno, tempat sejarah, mitologi, dan spiritualitas Hindu-Buddha bertemu di satu titik yang sama: puncak sebuah bukit kecil setinggi kurang lebih 193 meter di atas hamparan sawah Buruan.
Bagi masyarakat Hindu Bali, Pura Durga Kutri bukan hanya situs arkeologis. Ia adalah tempat suci yang dipercaya menjadi persemayaman Dewi Durga dalam wujud yang sangat istimewa, sebuah arca yang oleh banyak sejarawan dan masyarakat setempat diyakini merupakan penggambaran seorang ratu sungguhan yang pernah memerintah Bali: Ratu Gunapriya Dharmapatni, yang lebih dikenal dengan nama Mahendradatta.

Sekilas Tentang Pura Durga Kutri
Pura Durga Kutri berdiri di atas sebuah bukit kecil yang masih diselimuti hutan alami di tengah lanskap persawahan Gianyar. Kompleks pura ini sebenarnya terdiri dari tiga bagian yang saling berkaitan namun berbeda fungsi dan lokasi ketinggiannya:
- Pura Puseh, yang berada di bagian paling bawah, dekat jalan raya menuju Kota Gianyar.
- Pura Bukit Dharma, yang terletak di tengah, sebagai area peralihan menuju puncak.
- Pura Pedharman dan area suci utama di puncak bukit, tempat arca Durga Mahisasuramardini Astabuja bersemayam.
Struktur berjenjang ini bukan kebetulan. Dalam filosofi arsitektur pura Bali, konsep Tri Mandala, pembagian area suci menjadi nista mandala (halaman luar), madya mandala (halaman tengah), dan utama mandala (halaman utama/paling suci), diterapkan secara harfiah di sini melalui kontur bukit itu sendiri. Semakin tinggi seseorang mendaki, semakin dekat pula ia dianggap dengan kesucian.
Lokasi dan Akses Menuju Pura Durga Kutri
Pura Durga Kutri terletak sangat strategis, tepat di sisi jalan utama yang menghubungkan Denpasar dengan Gianyar, sehingga mudah dijangkau baik dari arah Ubud, Sukawati, maupun pusat Kota Gianyar. Dari kaki bukit, pengunjung perlu menaiki ratusan anak tangga yang menembus vegetasi hutan kecil untuk mencapai area suci di puncak.
Perjalanan mendaki ini sendiri memiliki nilai simbolis. Banyak masyarakat lokal memaknainya sebagai perjalanan spiritual, sebuah proses “mendaki” dari alam duniawi (bhur), melewati alam tengah (bhuwah), menuju alam suci (swah), sejalan dengan konsep kosmologi Tri Loka dalam ajaran Hindu Bali.
Karena statusnya sebagai pura yang masih aktif digunakan untuk upacara adat dan persembahyangan, pengunjung, termasuk wisatawan, diharapkan mengenakan kain dan selendang (busana adat sembahyang) serta menjaga sikap selama berada di area suci, terutama saat mendekati mandala utama tempat arca Durga bersemayam. Jam kunjungan umumnya mengikuti jam operasional pura-pura desa lainnya di Bali, yaitu pagi hingga sore hari, namun disarankan untuk mengonfirmasi langsung dengan pengempon (pengelola adat) pura sebelum berkunjung, khususnya bila bertepatan dengan hari piodalan atau upacara besar.



Sejarah Pura Durga Kutri: Berdiri Sejak Abad ke-9
Sejarah Pura Durga Kutri tidak bisa dipisahkan dari rangkaian prasasti kuno yang tersebar di berbagai wilayah Bali. Berdasarkan sejumlah prasasti — di antaranya Prasasti Peguyangan, Prasasti Trunyan, Prasasti Tengkulak, dan Prasasti Prasada, para peneliti memperkirakan keberadaan pura ini sudah tercatat sejak tahun 835 Saka, atau sekitar tahun 913 Masehi, yaitu pada masa pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa, salah satu raja tertua yang namanya tercatat dalam sejarah Bali kuno.
Setelah masa Sri Kesari Warmadewa, kekuasaan di Bali berlanjut melalui sejumlah raja seperti Ugrasena, Tabanendra, dan Jayasingha, hingga akhirnya sampai pada masa pemerintahan Udayana Warmadewa pada sekitar abad ke-10 dan awal abad ke-11. Pada periode inilah nama Pura Durga Kutri mulai erat dikaitkan dengan sosok yang menjadi tokoh sentral dalam legendanya: sang permaisuri kerajaan, Gunapriya Dharmapatni, atau Mahendradatta.
Sejumlah penelitian akademis, termasuk kajian dari Universitas Mahendradatta yang meneliti langsung situs ini, memperkirakan bahwa kompleks pura sebagaimana yang berdiri sekarang berkembang dalam rentang abad ke-10 hingga abad ke-13 Masehi, dengan beberapa arca yang berasal dari masa yang lebih belakangan, kemungkinan pada masa pemerintahan Raja Anak Wungsu (1049–1077 M), putra dari Udayana dan Mahendradatta sendiri. Ini menunjukkan bahwa Pura Durga Kutri bukan dibangun dalam satu masa, melainkan berkembang secara bertahap selama beberapa generasi kerajaan.
Siapakah Mahendradatta?
Mahendradatta adalah salah satu tokoh paling penting sekaligus paling diselimuti misteri dalam sejarah Bali kuno. Ia dipercaya berasal dari trah Wangsa Isyana di Jawa Timur dan menikah dengan Udayana Warmadewa, raja Bali pada masanya. Dari pernikahan ini lahir putra mereka, Airlangga, yang kelak menjadi salah satu raja besar di Jawa yang berhasil mempersatukan kembali kerajaan Kahuripan.
Namun di luar catatan sejarah formal, nama Mahendradatta juga hidup kuat dalam folklor Bali, termasuk yang dikaitkan (meski secara simbolis dan tidak secara historis pasti) dengan legenda Calon Arang, kisah tentang seorang janda sakti yang menguasai ilmu hitam dan kelak menjadi asal-muasal figur Rangda dalam mitologi Bali. Penting untuk dicatat bahwa kaitan ini sebagian besar bersifat legenda dan tradisi lisan, bukan fakta historis yang terverifikasi secara akademis. Justru di Pura Durga Kutri, sosok Mahendradatta dihadirkan dalam bentuk yang jauh lebih agung dan sakral: sebagai penjelmaan Dewi Durga itu sendiri.
Legenda Sang Ratu yang Menjadi Dewi Durga
Inilah yang membuat Pura Durga Kutri begitu istimewa dibandingkan pura-pura lain di Bali: keberadaan sebuah arca besar setinggi sekitar 3,6 meter di puncak bukit yang menggambarkan Dewi Durga Mahisasuramardini Astabuja, Durga bertangan delapan yang sedang menaklukkan raksasa kerbau (Mahisasura).
Menurut tradisi dan kepercayaan masyarakat setempat, arca ini bukan sekadar representasi dewi dalam mitologi Hindu secara umum, melainkan diyakini merupakan penggambaran wajah dan sosok Ratu Mahendradatta sendiri, yang “disatukan” secara spiritual dengan Dewi Durga setelah wafat. Prasasti Prangsada bahkan disebut-sebut menguraikan bagaimana Raja Anak Wungsu memuliakan ibundanya, Ratu Mahendradatta, dengan cara menyatukannya secara simbolis dengan sosok yang dipuja di Candi Burwan (diperkirakan merujuk pada situs yang kini dikenal sebagai Pura Durga Kutri).
Kisah ini menempatkan Pura Durga Kutri dalam posisi yang unik: bukan sekadar tempat pemujaan dewi dalam pengertian mitologis semata, tetapi juga bentuk pendharmaan, pemuliaan arwah leluhur kerajaan, yang menyatu dengan pemujaan terhadap kekuatan ilahi. Dalam banyak tradisi Bali, praktik semacam ini dikenal sebagai dewa-raja, di mana seorang penguasa yang telah wafat dipuja dalam wujud dewa yang berkaitan dengan sifat atau perannya semasa hidup.

Makna Mitologi di Balik Arca Durga Mahisasuramardini
Untuk memahami mengapa sosok Durga dipilih sebagai representasi sang ratu, kita perlu menengok kembali kisah asal Dewi Durga dalam mitologi Hindu yang berasal dari India dan kemudian diserap ke dalam kosmologi Bali.
Dikisahkan bahwa Dewi Parwati (juga dikenal sebagai Dewi Uma), istri Dewa Siwa, harus turun tangan menghadapi raksasa yang sangat sakti bernama Mahisasura — raksasa yang mampu bersembunyi dan berwujud seekor kerbau (mahisa). Karena kesaktiannya yang luar biasa dan sulit ditaklukkan, sosok dewi yang mengalahkannya kemudian dijuluki Durga, yang secara harfiah berarti “sulit dicapai” atau “sulit ditaklukkan”. Dalam pertempuran itu, Dewi Durga digambarkan bertangan delapan (Astabuja), masing-masing memegang senjata pusaka pemberian para dewa, melambangkan kekuatan spiritual gabungan dari seluruh alam semesta untuk melawan kejahatan.
Pemilihan sosok Durga sebagai representasi seorang ratu bukanlah kebetulan. Dalam banyak tafsir budaya dan spiritual Bali, Durga bukan semata-mata simbol kekerasan atau kemarahan, melainkan simbol kekuatan pelindung, energi feminin yang tegas, protektif, dan tidak segan bertindak demi menjaga keseimbangan (dharma) dari ancaman kejahatan (adharma). Dengan menggambarkan Mahendradatta sebagai Durga, generasi penerusnya seolah ingin menegaskan bahwa sang ratu adalah pelindung sejati bagi rakyat dan kerajaannya.
Sinkretisme Hindu-Buddha: Arca-Arca Sakral di Pura Durga Kutri
Salah satu hal paling menarik dari kompleks Pura Durga Kutri adalah bagaimana ia menjadi bukti nyata harmoni antara Hindu dan Buddha di Bali kuno, sebuah fenomena yang dalam kajian sejarah dikenal dengan istilah Siwa-Buddha.
Di area Pura Puseh, yang berada di bagian bawah kompleks, pengunjung dapat menjumpai sejumlah arca kuno yang justru bercorak Buddhis, seperti:
- Arca Amoghapasa, salah satu manifestasi Bodhisattva Awalokiteswara dalam tradisi Buddha Mahayana-Tantrayana, yang dikenal sebagai pembebas makhluk dari penderitaan.
- Arca Bodhisattva Awalokiteswara, simbol welas asih universal dalam ajaran Buddha.
- Sejumlah arca Buddha lainnya yang diperkirakan berasal dari periode yang sama dengan masa pemerintahan Mahendradatta.
Di sisi lain, kompleks ini juga menyimpan arca-arca bercorak Hindu seperti Ganesha, dewa berkepala gajah putra Dewa Siwa yang dipuja sebagai penghalau rintangan, serta berbagai arca dewa lain yang terkait dengan pemujaan Surya (Wisnu) sebagaimana disebutkan dalam prasasti Peguyangan.
Keberadaan kedua unsur ini, Hindu dan Buddha, dalam satu kompleks yang sama menunjukkan bahwa pada masa pemerintahan Udayana dan Mahendradatta, Bali menganut sistem kepercayaan yang inklusif, di mana ajaran Siwa dan Buddha tidak dipertentangkan, melainkan dipadukan secara harmonis dalam praktik keagamaan kerajaan maupun masyarakat.
Struktur dan Fungsi Pura Durga Kutri Sebagai Kahyangan Jagat
Dalam sistem pura di Bali, tidak semua pura memiliki kedudukan yang sama. Ada pura milik keluarga (sanggah/merajan), pura milik desa adat (kahyangan tiga), dan ada pula pura yang berstatus lebih tinggi karena diakui dan disungsung (dipuja) oleh masyarakat lintas wilayah, inilah yang disebut Pura Kahyangan Jagat.
Pura Durga Kutri termasuk dalam kategori Kahyangan Jagat, yang berarti pura ini bukan hanya milik satu desa adat semata, melainkan menjadi tempat pemujaan bersama bagi umat Hindu dari berbagai wilayah di Bali, khususnya yang memiliki garis keturunan atau kaitan sejarah dengan trah kerajaan Bali kuno era Warmadewa.
Fungsi ini menjadikan Pura Durga Kutri tetap aktif hingga sekarang sebagai tempat persembahyangan, terutama pada hari-hari piodalan (upacara peringatan berdirinya pura) yang dirayakan sesuai kalender Bali (pawukon). Pada momen-momen tersebut, ribuan pemedek (umat yang bersembahyang) dari berbagai daerah datang untuk memohon keselamatan dan berkah, khususnya terkait dengan kekuatan pelindung yang dilambangkan oleh Dewi Durga.

Nilai Sejarah dan Edukasi Pura Durga Kutri
Selain nilai spiritualnya, Pura Durga Kutri juga memiliki nilai edukasi sejarah yang sangat tinggi. Sejumlah penelitian akademis, termasuk yang dilakukan oleh mahasiswa dan dosen dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) serta Universitas Mahendradatta, telah mengkaji situs ini sebagai sumber belajar sejarah, khususnya terkait masa pemerintahan Bali kuno pra-Majapahit.
Melalui prasasti-prasasti yang terkait dengan pura ini, generasi sekarang dapat memahami bagaimana sistem pemerintahan, struktur sosial, dan kehidupan keagamaan masyarakat Bali pada abad ke-9 hingga ke-13 berjalan, jauh sebelum pengaruh Majapahit masuk ke Bali pada abad ke-14. Ini menjadikan Pura Durga Kutri sebagai salah satu “arsip hidup” peradaban Bali yang paling awal dan otentik.

Tips Berkunjung ke Pura Durga Kutri
Bagi yang tertarik mengunjungi langsung situs bersejarah ini, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Kenakan busana sopan atau kain sembahyang. Karena ini adalah pura aktif, bukan sekadar situs wisata, hormati aturan berbusana yang berlaku, terutama saat memasuki area utama mandala di puncak bukit.
- Siapkan fisik untuk mendaki. Anak tangga menuju puncak cukup panjang, jadi disarankan menggunakan alas kaki yang nyaman dan membawa air minum, terutama saat cuaca panas.
- Datang di pagi atau sore hari untuk menghindari terik matahari saat mendaki, sekaligus mendapatkan suasana yang lebih tenang.
- Hormati momen persembahyangan. Jika bertepatan dengan upacara adat atau piodalan, sebaiknya bersikap sebagai tamu yang menghormati prosesi, bukan sekadar berfoto.
- Gunakan jasa pemandu lokal atau bertanya kepada pengempon pura jika ingin memahami lebih dalam kisah dan makna setiap arca yang ada di kompleks ini, banyak detail sejarah yang tidak tertulis di papan informasi, namun diwariskan secara lisan turun-temurun.
Penutup
Pura Durga Kutri adalah bukti bahwa Bali bukan hanya pulau dengan keindahan alam dan pantai, melainkan juga pulau dengan lapisan sejarah yang dalam dan kompleks. Dari puncak bukit kecil di Buruan ini, kita bisa membaca jejak sebuah kerajaan yang berdiri lebih dari seribu tahun lalu, mendengar gaung legenda seorang ratu yang menjelma menjadi dewi pelindung, dan menyaksikan bagaimana dua ajaran besar, Hindu dan Buddha, pernah hidup berdampingan dalam harmoni yang jarang ditemukan di tempat lain.
Bagi siapa pun yang ingin memahami Bali lebih dari sekadar destinasi liburan, Pura Durga Kutri adalah salah satu tempat yang wajib dijelajahi, bukan hanya dengan mata, tetapi juga dengan rasa hormat terhadap sejarah dan spiritualitas yang masih hidup di dalamnya hingga hari ini.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Pura Durga Kutri terletak di Banjar Kutri, Desa Buruan, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali, tepat di sisi jalan utama Denpasar–Gianyar.
Berdasarkan sejumlah prasasti, keberadaan pura ini diperkirakan sudah tercatat sejak tahun 835 Saka (sekitar 913 Masehi), pada masa pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa, dan terus berkembang hingga masa Udayana dan Anak Wungsu pada abad ke-11.
Keunikan utamanya adalah arca Durga Mahisasuramardini Astabuja setinggi sekitar 3,6 meter di puncak bukit, yang dipercaya masyarakat sebagai penggambaran Ratu Mahendradatta yang menyatu secara spiritual dengan Dewi Durga.
Mahendradatta, atau Gunapriya Dharmapatni, adalah permaisuri Raja Udayana Warmadewa dan ibu dari Raja Airlangga. Ia adalah salah satu tokoh perempuan paling berpengaruh dalam sejarah Bali-Jawa kuno.
Ya. Pura ini berstatus Kahyangan Jagat dan masih aktif digunakan untuk persembahyangan oleh umat Hindu, terutama pada hari piodalan sesuai kalender Bali.



