
Segara Gunung — Bendega dan Subak: Menjaga Jati Diri Bali di Tengah Perubahan
Bendega dan Subak Bali adalah dua sistem tradisional penjaga keseimbangan alam dan budaya. Pelajari konsep Segara Gunung dan relevansinya hari ini.

Bali adalah pulau kecil dengan keindahan alam yang lengkap. Dalam waktu singkat, seseorang dapat menikmati pantai yang indah, hamparan sawah yang hijau, dan pemandangan gunung yang megah. Keunikan inilah yang menjadikan Bali berbeda dari daerah lain di Indonesia. Meski luas wilayahnya tidak begitu besar, Bali memiliki hubungan yang sangat erat antara manusia, alam, dan budaya yang masyarakatnya wariskan secara turun-temurun.
Sejak zaman dahulu, masyarakat Bali membangun pola hidup yang selaras dengan kondisi alam tempat mereka tinggal. Dari hubungan tersebut lahirlah dua sistem tradisional yang sangat penting: Bendega dan Subak. Bendega dan Subak Bali bukan hanya cara masyarakat mengelola sumber daya alam. Keduanya adalah bagian dari identitas dan kearifan lokal Bali yang tidak bisa dipisahkan dari sistem desa adat di Bali.
Bendega: Sistem Tata Kelola Masyarakat Pesisir
Bendega adalah sistem pengelolaan kehidupan masyarakat pesisir yang berkaitan dengan laut dan pantai. Melalui sistem ini, masyarakat mengatur pemanfaatan sumber daya laut secara bersama-sama serta menjaga keseimbangan lingkungan pesisir.
Namun, laut dalam pandangan masyarakat Bali bukan sekadar sumber penghidupan. Laut adalah ruang yang memiliki nilai spiritual. Hal ini tercermin dari berbagai ritual keagamaan yang masyarakat laksanakan di pantai, seperti upacara Melasti menjelang Hari Raya Nyepi. Tradisi tersebut mencerminkan penghormatan masyarakat Bali terhadap laut sebagai bagian penting dari kehidupan, sejalan dengan nilai Tri Hita Karana yang menempatkan hubungan manusia dengan alam sebagai salah satu pilar utama keharmonisan hidup.
Subak: Sistem Irigasi Tradisional Warisan Dunia
Di sisi lain, masyarakat yang hidup di kawasan pertanian mengembangkan sistem Subak. Sistem ini mengatur pembagian air secara adil kepada para petani. Namun, Subak tidak hanya berbicara tentang pengairan sawah. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, gotong royong, dan tanggung jawab bersama dalam menjaga sumber air dan lahan pertanian.
Karena kemampuannya mengatur pengelolaan air secara efektif dan berkelanjutan, Subak mendapat pengakuan dunia sebagai salah satu warisan budaya yang memiliki nilai luar biasa. Pengakuan ini tidak lahir dari ruang hampa, ia lahir dari sistem komunitas yang hidup, dengan struktur dan aturan yang dikelola dari tingkat desa adat ke atas, sebagaimana awig-awig Bali mengatur kehidupan komunal secara menyeluruh.
Segara Gunung: Satu Kesatuan yang Tak Terpisahkan
Keberadaan Bendega dan Subak sesungguhnya mencerminkan konsep Segara Gunung yang telah lama hidup dalam pandangan masyarakat Bali. Segara berarti laut, sedangkan Gunung melambangkan wilayah dataran tinggi. Keduanya bukan dua hal yang terpisah. Masyarakat Bali memandang keduanya sebagai satu kesatuan yang saling terhubung dan harus dijaga keseimbangannya.
Laut menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat pesisir, sementara gunung dan kawasan hulu menjadi sumber air yang menopang kehidupan pertanian. Tidak mengherankan jika banyak pura besar di Bali berdiri di kawasan pesisir maupun pegunungan, sebagai simbol penghormatan terhadap kedua unsur alam tersebut. Selain itu, ini adalah wujud nyata dari palemahan dalam Tri Hita Karana, hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan alam.
Melalui konsep Segara Gunung, masyarakat Bali belajar bahwa alam bukan sekadar sumber ekonomi, melainkan bagian dari kehidupan yang harus dimuliakan dan dijaga. Kesadaran inilah yang selama berabad-abad menjaga keseimbangan lingkungan Bali sehingga tetap lestari.
Tantangan yang Tidak Ringan
Namun, perkembangan zaman membawa tantangan yang tidak kecil. Pertumbuhan sektor pariwisata yang sangat pesat memberi dampak besar terhadap keberadaan Bendega dan Subak Bali. Banyak kawasan pesisir berubah fungsi menjadi akomodasi wisata, sementara lahan pertanian semakin berkurang akibat pembangunan berbagai fasilitas penunjang pariwisata dan permukiman.
Perubahan tersebut secara perlahan memengaruhi keberlangsungan sistem tradisional yang selama ini menjadi penyangga kehidupan masyarakat Bali. Di beberapa daerah, saluran irigasi Subak tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya karena berkurangnya lahan pertanian. Sementara itu, keberadaan Bendega semakin jarang dikenal, terutama oleh generasi muda yang tumbuh di tengah perubahan sosial dan ekonomi yang cepat.
Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa upaya pelestarian yang serius, Bali berisiko kehilangan sebagian dari identitas budayanya. Padahal, kekuatan utama Bali bukan hanya terletak pada keindahan alamnya. Kekuatan Bali terletak pada sistem nilai dan tradisi yang menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan lingkungan, sistem yang juga menjadi fondasi dari pengakuan dan perlindungan desa adat Bali oleh negara.
Komitmen Bersama yang Diperlukan
Oleh karena itu, pemerintah, masyarakat adat, pelaku usaha, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan perlu membangun komitmen bersama untuk menjaga keberlangsungan Bendega dan Subak Bali. Pelestarian kedua sistem ini tidak cukup hanya melalui regulasi. Ia harus diwujudkan dalam tindakan nyata, seperti:
- Perlindungan kawasan pertanian dari alih fungsi lahan
- Pengelolaan pesisir yang berkelanjutan berbasis komunitas
- Edukasi kepada generasi muda tentang nilai Bendega dan Subak
- Penguatan peran masyarakat lokal dalam menjaga lingkungan setempat
Menjaga Bendega dan Subak berarti menjaga keseimbangan alam Bali. Ketika laut, pantai, sungai, sawah, dan pegunungan tetap terpelihara, kehidupan masyarakat Bali pun terus berjalan secara harmonis. Inilah semangat yang selaras dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, membangun dan menjaga kesucian serta keharmonisan alam Bali demi kesejahteraan generasi sekarang dan masa depan.
Penutup
Pada akhirnya, Bendega dan Subak Bali dalam konsep Segara Gunung bukan sekadar warisan masa lalu. Keduanya adalah fondasi penting yang membentuk jati diri Bali. Selama nilai-nilai tersebut dijaga dan diwariskan, Bali akan tetap menjadi pulau yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga kaya akan kearifan dan keseimbangan hidup yang patut dibanggakan.
Ditulis Oleh:
Ida Bagus Purwa Sidemen, S.Ag., M.Si | Patajuh Bandesa Agung Baga Agama, Adat, Budaya dan Tradisi, Majelis Desa Adat Provinsi Bali



